duniasantri.co

Visi Membangun Negeri

Megengan, Poso, dan Corona

Seperti biasa, beberapa hari menjelang bulan suci Ramadan, para ibu di desa saya sibuk menyiapkan paket makanan untuk diantar kepada tetangga terdekat. Tradisi membagikan makanan ini oleh masyakat Jawa disebut dengan Megengan. Beberapa orang meninterpretasikan Megengan dengan kata Meng-Ageng-ageng, atau membesar-besarkan. Hal ini bermakna bahwa Megengan adalah manifestasi luapan rasa suka cita masyarakat Jawa dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Di sisi lain, bila dilihat dari akar katanya, Megengan berasal dari kata Megeng, yang berarti menahan. Hal ini menjadi simbol dan pengingat bagi masyarakat Jawa untuk mulai menahan diri dari hal-hal yang tidak semestinya dilakukan pada hari-hari menjelang puasa, dan selama menjalankan puasa.

Baca Juga:   Beragama Tanpa Etika Bisa Jadi Pengacau dan Perusuh

Megeng, yang berarti menahan, mempunyai korelasi kuat dengan puasa. Dalam Bahasa Jawa, puasa disebut posoPoso sendiri adalah akronim dari ngeposne roso yang bermakna menahan rasa. Rentetan antara Megengan dan puasa berujung pada upaya menahan nafsu itu sendiri. Saya tidak akan membahas bagaimana sejarah Megengan yang menurut para ahli adalah hasil akulturasi dari kebudayaan tua Jawa dan Islam tersebut. Saya tiba-tiba saja tertarik untuk menarik garis lurus antara konsep menahan nafsu, dan juga fenomena Corona yang sedang menyelimuti Bumi kita ini.

Advertisements
Cak Tarno

Halaman: First 1 2 3 ... Next → Last Show All

Baca Juga:   Kerukunan Tetangga

Comments

be the first to comment on this article

Tinggalkan Balasan