Mayoran, Tradisi Kebersamaan Santri

2.307 kali dibaca

Pondok pesantren, lembaga pendidikan tertua di Indonesia yang pendiriannya diinisiasi oleh masyarakat, dikenal memiliki beragam tradisi yang khas dan unik. Budaya keislaman di pesantren  menjadi keunikan dari orang-orang yang ada di dalam pesantren tersebut.

Selain tradisi sorogan, bandongan, roan, sarungan, antre, dan lain sebagainya, pondok pesantren juga memiliki tradisi makan besama di nampan. Selain di Indonesia, makan bersama ini telah menjadi tradisi dalam budaya Arab. Makan di nampan ini biasa disebut dengan istilah “mayoran”.

Advertisements

Budaya mayoran di kalangan santri ini dianggap sebagai langkah mengakrabkan atau mendekatkan para santri. Sebagaimana diketahui bahwa santri tidak hanya berasal dari daerah yang sama. Ditemukan banyak pesantren yang santrinya berasal dari berbagai daerah. Pesantren disebut juga sebagai miniature religius skala terkecil dari suatu bangsa.

Baca juga:   Sheikh Yаѕіn, the World-Respected Minang Ulama

Mayoran adalah tradisi santri makan bersama di wadah yang bundar ataupun kotak yang di sebut nampan. Nampan atau baki tersebut biasanya terbuat dari plastik, kayu, logam, dan bahan lainnya. Terkadang jika tidak ada nampan, para santri yang terkenal dengan tradisi hidup sederhana akan makan bersama di atas daun pisang yang panjang. Hal ini menurut mereka nikmat-nikmat saja. Nilainya bagi santri yang terpenting bersama siapa ia makan, bukan tentang apa. Makan bersama bersama teman-teman dengan banyak tangan tentu terasa nikmat. Ada kesan rebutan yang membuat para santri greget.

Baca juga:   Persaudaraan Santri

Pada hakikatnya mayoran atau makan besama adalah bentuk rasa syukur. Makan bersama dengan wadah yang besar seperti nampan biasa dilakukan santri untuk merayakan suatu hal yang berkesan, misalnya ulang tahun, keberhasilan dalam suatu hal seperti khataman Al-Qur`an ataupun lulus ujian dan lain sebagainya. Namun, tak jarang santri yang selalu membudayakan makan besama, setidaknya sepiring dua orang. Hal ini menunjukkan bahwa santri setiap harinya selalu mengimplementasikan rasa syukur kepada sang Khalik melaui perbuatannya. Selain makan bersama, santri juga terbiasa minum sisa temannya. Hal ini mencerminkan sikap tawadhu` suatu santri.

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan