KETIKA KITA TELANJANG NANTI

KETIKA KITA TELANJANG NANTI

di Padang Mahsyar nanti
tubuh kita sama-sama telanjang, bukan?

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

tangis pilu mengair-matai
sumur-sumur kesedihan
sungai-sungai penyesalan

ketika itu waktu sudah tenggelam
menolak ditolong, enggan diselamatkan
“aku sudah dibebastugaskan!”

lembaran demi lembaran
catatan amal disingkapkan
biar dibaca disaksikan dikasihani
oleh para anggota badan sendiri

mata: bermalu-malulah!
telinga: berdarah-darahlah!!
kaki: berduka-dukalah!
tangan: bermaut-mautlah!!

mulut berkata dalam hati,
“bukankah lisanku sudah dipermalukan duka
serta berdarah digores maut sedari tadi?”

di Padang Mahsyar nanti
nafsu kita sama-sama dibungkam, bukan?

Baca Juga:   AIR MATA PERINDU

SAJAK TUHAN

Bahtera Nuh saja masih kalah besar
Iman Ibrahim saja masih kalah kokoh

Ilmu Khidir saja tidak seberapa
Kasih Isa saja belum setengahnya

Dan kami tak pernah bisa berkunjung ke sana?
“wa nahnu aqrabu ilaihi min hablil wariid.”

Pada sebuah sajak Tuhan,
barisan sabda kata memuji-Nya
menggenggam suratan
mencium tangan-Nya

PERAMU KATA-KATA

Bakat kita sejatinya hanyalah merayu
merajut kisah memahat kasih
mengupas duka melepas lara

Seperti dendang nyanyian: seribu satu malam,
yang selalu mereka bunyikan
di tiap penghujung malam

Baca Juga:   KH Ahmad Mustofa Bisri

Atau dalam sandiwara: Aladdin memuja Jasmin,
yang senantiasa mereka dambakan
dapat halal berkawan dengan jin

Sejak itu pun mereka berusaha
mencatat beberapa bagian terbaiknya
dan menuliskannya ke dalam
kisah karangan mereka sendiri

Dendam dipadamkan,
cinta dinyalakan

Dengan sedikit bumbu luka
dan luapan rindu kekasih,
cerita baru pun tercipta
siap mengguncang seisi hati

Tinggalkan Balasan