“Kelir Slindet”, Novel Etnografis Seorang Santri

Siapa yang tidak kenal nama Kedung Darma Romansha? Ia dikenal sebagai santri yang penyair, aktor yang turut bermain di berbagai film terkenal seperti Cokroaminoto dan Sultan Ageng, dan juga novelis. Dia memang dikenal sebagai sosok yang cukup produktif di dunia seni dan sastra. Salah satu novelnya, Kelir Slindet, yang terbit pertama kali di 2014 dan kini diterbitkan kembali dengan cover berbeda, memenangkan sayembara Roman Tabloid Nyata.

Baru-baru ini, dunia sastra Indonesia cukup diramaikan dengan hadirnya novel-novel etnografis seperti Orang-orang Oetimu karya Felix K Nesi dan Burung Kayu karya Niduparas Erlang. Tapi, enam tahun lalu, Kedung sudah menulis novel yang bisa dibilang novel etnografis lewat Kelir Slindet, namun nampaknya novel ini kurang begitu dikenal di kalangan santri secara luas meskipun penulisnya adalah seorang santri.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Memang betul, Kelir Slindet sama sekali tidak bicara soal dunia pesantren seperti novel-novel pesantren pada umumnya, sehingga orang barangkali akan berdebat apakah novel tersebut masuk kategori sastra pesantren atau tidak, mengingat isi novelnya juga dianggap sedikit nakal oleh beberapa pembaca.

Baca Juga:   Menelisik Ladang Subur Radikalisme (2-Habis)

Perdebatan soal definisi sastra pesantren memang tidak pernah selesai. Di Muktamar Sastra Situbondo 2018, soal sastra pesantren ini sempat dibahas dan meskipun ada kesimpulan sastra pesantren sebagai sastra yang ditulis oleh orang-orang pesantren dan sebagai sastra yang mengisahkan dunia pesantren, nampaknya perdebatan ini tidak pernah usai.

Terlepas dari segala perdebatan itu, Kelir Slindet menjadi novel etnografis karya seorang santri yang cukup sayang untuk dilewatkan begitu saja. Kedung menarasikan kisah orang-orang Indramayu, tempat kelahirannya, dengan memukau. Persoalan kemiskinan, dangdut tarling, percintaan, politik, kekuasaan, dan kemunafikan jalin-menjalin dalam novel setebal 240an halaman ini.

Tinggalkan Balasan