KALAU BESOK KIAMAT

KALAU AKU TIDUR DAN BESOK KIAMAT

“Kalau aku tertidur dan besok kiamat, bagaimana?”

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Setiap kali aku membaca angka di detak waktu
selalu teringat saat-saat pertama berkenalan
dengan seperangkat lengkap peranti kehidupan
dalam rahim ibu bersambut raung tangisan

Di sanalah kami mandi, mandi darah
saling memamerkan luka siapa paling parah

Maka kalau tiba-tiba sunyi berteriak,
kalimatnya adalah angin kesepian
dan bising keheningan

Di sanalah kami berkaca, dalam darah
saling beradu hati siapa paling merah

Maka kalau tiba-tiba riuh menyepi,
kalimatnya adalah sorak diam
dan pesta mati

Baca Juga:   Gelisah

Sekali lagi:

“Kalau aku tertidur dan besok kiamat, bagaimana?”

Maka maafkan aku, sambil mengenang:
darimana semua harapan itu datang

Maka bentangkan sajadah, dan berdoalah:
satu ibadah terakhir sebelum kita semua kalah.

NYANYIAN HATI, TARIAN JEMARI
: Milea

“Mengarang tidak semudah itu, Milea.”

Karena setiap kata harus punya arti,
pola rimanya wajib memberi makna
bait iramanya menerjemahkan isi,
menanam kesan dalam hati penikmatnya

Di dalam puisi aku suka memasang kota,
karena ia berirama dengan kata cinta
seperti cinta bersemi di indahnya kota,
atau kota yang tenggelam direndam cinta

Baca Juga:   KH Ahmad Mustofa Bisri

“Lantas kalau tidak mudah, kenapa kau suka?”

Embun yang menggelayuti daun setiap pagi,
lantas hilang mati dijemput malaikat matahari

Yang patah tumbuh, yang hilang berganti

atau,

Yang patah ya patah, yang hilang ya hilang

“Mencintaimu juga tidak mudah, Milea.

Tapi kau tidak pernah bertanya:
kenapa aku selalu suka, bukan?”

BAIT-BAIT IBADAH

Adakah yang lebih indah daripada

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan