Kaffarah

1.130 kali dibaca

Cerita yang telah diceritakan secara turun-temurun dari generasi ke generasi ini sudah amat masyhur di kalangan para semut yang bersarang di pohon jambu di halaman musala pinggir Jalan Puteran, Doplangkarta. Bahkan kemasyhurannya telah merambah ke segenap kalangan binatang yang berhabitat di pekarangan-pekarangan kampung itu hingga kampung sekitarnya.

Ini cerita tentang seekor semut yang menjadikan seorang lelaki menginsyafi kelakuannya, dan perlahan-lahan memperbaikinya.

Advertisements

Semua ini bermula dari kebiasaan para semut mencari nafkah dengan cara mengumpulkan remah-remah makanan yang tercecer di sebuah rumah beberapa jarak dari musala itu. Pada suatu siang, sementara semut-semut yang lain merangkak menuju ke dapur, seekor semut —yang menurut teman-temannya agak lain karena kebiasaannya lebih suka berpikir tinimbang bekerja— menyempal dari barisan menuju sebuah ruangan, tempat di mana seorang lelaki tidur terkapar di lantai dengan begitu sentosa.

Baca juga:   Merayakan Hari Kartini di Pesantren

Memang, semut itu sedang dirongrong rasa penasaran. Semalam, saat teman-temannya pada tertidur nyenyak setelah seharian bekerja, ia malah asyik menyimak Guru Wasiran —seusai mengajari anak-anak membaca al-Quran di serambi mushala— bercerita bahwa manusia diciptakan oleh Gusti Allah Ta’ala dari tanah.

Demi membuktikan adakah unsur-unsur kesamaan di antara manusia dan tanah, ia mendekati lelaki itu, lalu merambati telapak kiri tangannya. Subhanallahi wa bikhamdihi, demikian benaknya sembari menyusuri lengan lelaki itu, mendapati bulu-bulu yang tumbuh subur di permukaan kulit sebagaimana tanah menumbuhkan pepohonan; ia jadi tambah percaya dengan apa yang dikatakan oleh Guru Wasiran.

Baca juga:   Santri dan Tantangan Era Disrupsi

Setelah puas mengamati, ia bermaksud turun ke lantai untuk kemudian menceritakan pada teman-temannya hasil pengamatannya tadi. Akan tetapi, karena mimpi yang dialami, sekonyong-konyong lelaki itu menggerakkan lengan kirinya— menjadikan tubuh si semut terguncang dan secara refleks menggigit kulitnya untuk memperkuat pegangan agar tak jatuh ke lantai.

Rasa slegit di lengan membangunkan lelaki itu. Lalu teriring rasa kesal, ia mengangkat tangan kanannya —bermaksud menabokk semut itu. Sementara si semut, begitu menyadari apa yang akan dilakukan oleh lelaki itu, seketika memohon kepada Gusti Allah Ta’ala agar orang itu dapat memahami apa yang bakal diucapkannya:

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

One Reply to “Kaffarah”

Tinggalkan Balasan