Guru Syaekhoni

911 kali dibaca

Saya ingin mengenang seorang guru yang memiliki nama cukup pendek namun meninggalkan kenangan begitu panjang dalam ingatan saya: Syaekhoni.

Hingga hari ini, setelah puluhan tahun berlalu, saya masih bisa mengingat dengan takzim semua nama-nama, bahkan raut wajah dan gestur tubuh, guru-guru saya di madrasah ibtidaiyah. Namun, Pak Syaekhoni ini memang istimewa. Ia memiliki keistimewaan yang tak dimiliki guru-guru lain: mendongeng. Ya, itulah caranya mengajar di kelas: mendongeng.

Advertisements

Orangnya berperawakan kecil dan rambutnya dibiarkan agak panjang, lalu disisir kelimis setelah diurapi entah minyak apa. Sesekali berpeci hitam. Dari rumahnya yang berjarak sekitar empat kilometer, ia berangkat ke sekolah dengan mengonthel, mengayuh sepeda jengki —zaman itu tak ada guru yang naik sepeda motor, apalagi bermobil.

Baca juga:   Perpisahan Santri karena Pandemi

Tak perlu lagi dijelaskan bagaimana kesederhanaan penampilan guru-guru madrasah, apalagi di zaman dulu. Tapi caranya mengajar, ketika hari ini saya mengenangnya, sungguh tak bisa dibilang sederhana. Sebab, mendongeng itu ternyata bukan perkara gampang, dan tak semua orang atau semua guru bisa melakukannya. Saya sudah pernah melihat banyak pendongeng, tapi Pak Syaekhoni ini bagi saya masih yang terbaik.

Salah satu mata pelajaran yang diampunya adalah Tarikh, Sejarah Islam. Tidak seperti guru yang mengajar sejarah pada umumnya, yang menerangkan peristiwa-peristiwa historis secara kronologis berdasarkan buku teks, yang sangat kronikal dan begitu membosankan. Pak Syaekhoni datang ke ruang-ruang kelas kami menawarkan kesegaran. Setiap babakan dalam tarikh dihadirkan melalui dongeng. Disampaikan dengan cara mendongeng.

Baca juga:   Kisah Pesantren Ihya’us Sunnah dan Kopi Rempah

Bukan sekadar mendongeng. Belakangan saya menyadari, ia bukan pendongeng yang biasa. Sebab, ruang kelas tempat kami belajar seakan mampu ia sulap menjadi panggung teater, dan di sana ia sekaligus bisa berperan sebagai sutradara, narator, dan aktor-aktor sejarah dengan segala dialog dan acting-nya. Bukan, bukan sekadar mendongeng dengan cara bermolonog, misalnya. Sebab, di atas panggung tetater itu ia mampu memerankan segala peran.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan