Dunia Pesantren dalam Pandangan Ben Anderson

Bagi modernis Islam sejati, bahasa Arab adalah bahasa yang mengandung kebenaran dan rasionalitas, oleh sebab itu ia harus dimengerti secara langsung. Bagi kalangan pesantren tradisional, bahasanya tetaplah bahasa Jawa, sebagian lantaran bahasa Jawa adalah bahasa ibu, dengan segala variasi nada unggah-ungguh dan gaungnya, dan sebagian lainnya karena bahasa Jawa begitu kuat dirasakan sebagai ekspresi utama identitas Jawa.

Dus, dengan kiasannya yang berhuruf atau berkata awal sama, dengan perkembangan pembentukan lemanya yang berdasarkan tiruan bunyi, dan dengan kekayaan kosakatanya yang terbentuk berdasarkan daya serap seluruh panca indera itu, bahasa Jawa menawarkan sebuah pembendaharaan kausalitas esoteris dan perasaan keabadian akan sebuah kesinambungan tersembunyi yang melayang-layang melingkupi fenomena, yang menukik dalam ke atmosfer nan intim dalam kehidupan rakyat. Keseluruhan proses ini memang kabur, rumit, dan luar biasa penting.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Arkian, meskipun Anderson menggunakan istilah “dekadensi dan pelapukan Islam” dalam meneroka pendidikan di pesantren, menurut saya, dia tidak bermaksud untuk melakukan pelecehan normatif atas tradisi intelektual Muslim itu. Hal ihwal ini lebih sebagai kajian objektif, bahwa modus belajar seperti itu bersifat pasif dan oleh karena itu, kurang memberikan wahana yang kondusif bagi penggemburan pemikiran dan kritisisme di dunia Muslim.

Baca Juga:   Warsa Kuasa Cinta

Namun satu hal yang agaknya luput dari perhatian Anderson, hemat saya, bahwa tradisi seperti itu tidak hanya bisa ditemui di lingkungan Muslim Indonesia, tetapi juga berlangsung di dunia Muslim lainnya. Bernalar dengan cara lain, akan tiba pada simpulan yang berbeda, bahwa hal itu bukan melulu menunjukkan kelemahan metode pengajaran Islam, tetapi juga suatu pilihan tersendiri karena kecocokannya untuk memenuhi kebutuhan tertentu dari studi Islam, selain adanya hasrat untuk melestarikan tradisi pengajaran (Islam Nusantara) itu sendiri.

Tinggalkan Balasan