BULAN DI ATAS REL KERETA

112 kali dibaca

BULAN DI ATAS REAL KERETA

di puncak malam itu kau berbisik, “lihatlah bulan.”
bulan yang telanjang, mengapung jauh di lautan awan

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

aku memandang dari balik jendela
mungkin ia hendak mengabarkan rahasia
yang dikandung hikayat di suatu masa

aku bersiul melantunkan tembang
ingin angin membawanya terbang
mengarungi angkasa menyusul bulan
mengurai rahasia yang terapung di gugusan awan

tapi keretamu lekas bergerak menjauh
sehabis subuh
sebelum rahasia terurai
pada penghabisan pagi

aku ingin mendengar bisikmu lagi, “lihatlah bulan.”
bulan yang telanjang terapung di pangkuan

DEBUR OMBAK DI PETITENGET

Debur ombak yang mengguntur itu
adalah rinduku
pada perempuan bermata sayu
yang selalu menyeru namaku
ketika ia berkaca
pada sebaskom air mata

Debur ombak yang mengguntur itu
adalah rinduku
pada lelaki bermata nyalang
yang membuat kudukku meremang
ketika menyusun kata-kata
seperti sedang mengokang senjata

Debur ombak yang mengguntur itu
adalah rinduku
rindu gaung
pada gunung

ELEGI TEMPO HARI

“Aku masih bocah, Bapak, kenapa kau mengayun kapak?”

Pada sebatang pohon seekor burung gagak nangkring, menginding. Bertengger dalam diam, matanya angker menggodam. Angin berhenti berdesir, ranting-ranting berhenti berdzikir. Selembar daun gugur, barangkali karena uzur.

“Sebab jika besar nanti, Anak, kau yang akan mengayun kapak.”

Seekor celurut mendelik di sebalik belik, mengindik. Kukunya tajam mencengkeram. Matanya garang menerawang bayang pada celah lalang yang berhenti bergoyang. Di belik, air telah berhenti menitik.

“Aku masih bocah, Bapak, hanya tahu pada yang nampak.”

Halaman: 1 2 Show All

Tinggalkan Balasan