BOLA TAKDIR DAN BUS MALAM

BOLA TAKDIR

bola seperti takdir
yang ditendang waktu
menuju gawang nasib

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

bermain bola
adalah menjalani kehidupan
di lapangan misteri
dan siapa yang menemani
cuma diri dan sepi

bola seperti takdir
yang terpantul dari tiang
ke lubuk gawang
mengubur kenangan

 

BIBIR

bibir, dua lengkung yang setia berzikir
walau diam mengucap makna
kau dan aku

cinta sekali lagi
merebut tuhan dari kata-kata
rindu membikin kalimat
dan kau tinggali relungnya
dengan hikmat hampir
khusyuk

Baca Juga:   Kemeriahan Pelantikan PC IPNU-IPPNU Lampung Timur

bibir saling berkecupan
dengan ruang-waktu
dan caramu menaklukkan kenangan
di atas sajadah sembahyang
masih mengecap bau napas
yang menangis
dan dua lengkung
masih membisik nama-Nya

 

BUS MALAM

lampu-lampu redup sore hari
di pinggir jalan udara membungkus sisa senja
bagai tangan hitam yang menyusup
masuk ke dalam bilik batinmu

sebuah bayangan melaju
dengan dirimu sendiri
berbicara pada dirimu sendiri

bus malam
menunggu bintang-bintang
lampu-lampu kembali berguguran

gerimis mengantarmu
ke bangku subuh yang dingin
bayang daun-daun dan sisa embun

Baca Juga:   Nur Yasin, Pondok dengan Bisnis "Bebek Awet Madura"

kau belum sempat bertanya apa-apa
bukan mimpi, dan dalam matamu
bus masih melaju ke terminal waktu
ke esok yang mungkin tiada
kota, dengan kantuk dan tidur lelap
dan batuk-batuk mesin rusak
membawa jasadmu ke surga

Tinggalkan Balasan