Bahagia Menurut Kitab Idhotun Nasyiin

747 kali dibaca

Dalam hidup, kebahagiaan pasti merupakan dambaan bagi setiap orang. Tidak bisa dimungkiri, hal itu memang benar adanya. Kebahagiaan menjadi bumbu penyedap yang—barangkali—tidak bisa terhitung dengan angka dan tidak dapat tertulis dengan kata-kata. Bahagia adalah keadaan yang tidak bisa dipresentasikan. Andaikan bisa, maka representasi bahagia setiap orang tidak akan sama.

Setiap orang ingin bahagia dan punya hak untuk bahagia. Tentu, kebahagiaan mereka didapat dengan jalan yang berbeda. Ada yang mendapatkan kebahagiaan dengan sesuatu yang rumit, ada juga yang mendapatkannya dengan cara yang sangat sederhana. Sebab, dalam menginterpretasikan kebahagiaan tersebut, setiap orang punya cara pandang masing-masing.

Advertisements

Maka tak ayal, kita selalu menemukan kebahagiaan dengan segala macam rupa. Sebagian orang menganggap, bahagia adalah ketika memiliki banyak uang, sebagian yang lain beranggapan bahwa bahagia adalah ketika memiliki kekuasaan atau jabatan. Namun, tak sedikit dari mereka mengartikan kebahagiaan dengan bentuk yang lebih sederhana. Hal tersebut wajar, sebab—sekali lagi—kebahagiaan memang bersifat relatif.

Baca juga:   Menyoal Posisi Khazanah Keislaman Klasik

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahagia memiliki dua makna, yang sebenarnya saling berkaitan. Pertama, bahagia diartikan sebagai keadaan atau perasaan tenang dan tenteram. Bahagia selanjutnya—masih dalam KBBI—diartikan sebagai keberuntungan atau kemunjuran.

Kebahagiaan memang akan terlahir ketika keadaan jiwa dalam keadaan damai atau tenteram. Mustahil, jika kebahagiaan muncul, sementara batin atau perasaan masih karut-marut dengan masalah. Bisa dikatakan, ketenangan jiwa seseorang menjadi dasar sebelum bahagia itu dibangun.

Baca juga:   Mengenal Alala, Kitab Kumpulan Syair Taklim

Pada pengertian KBBI yang kedua, bahagia diartikan sebagai keberuntungan. Keberuntungan tersebut pastinya merupakan keberuntungan versi orang yang sedang bahagia. Sebab, sebagaimana kebahagiaan itu sendiri, keberuntungan juga bersifat relatif. Beruntung versi A mungkin saja berbeda dengan beruntung versi B. Sehingga konteks kebahagiaan keduanya juga tak sama.

Jadi, pada pengertian secara etimologis (KBBI) yang kedua ini, pondasi kebahagiaan adalah keberuntungan. Keberuntungan seseorang menjadi muasal kebahagiannya. Dan perlu diperhatikan lagi, bahwa keberuntungan setiap orang mungkin saja berbeda-beda.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan