Anak, antara Amanah dan Cobaan

996 kali dibaca

Setiap tanggal 23 Juli, sejak 1984 kita di Indonesia memperingati Hari Anak Nasional (HAN). Gagasan tentang Hari Anak ini sebenarnya sudah digulirkan jauh sebelum Indonesia merdeka, tepatnya sejak Kongres Wanita Indonesia (Kowani) I, 22 Desember 1928. Namun, baru terealisasi setelah ditetapkan Presiden Soeharto melalui Keputusan Presiden Nomor 44 Tahun 1984, diselaraskan dengan pengesahan Undang-Undang tentang Kesejahteraan Anak yang disahkan pada 23 Juli 1979. Sementara, atas saran Mr VK Khishna Menon, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1954 menetapkan tanggal 20 November sebagai Hari Anak Sedunia.

Dalam situasi pandemi Covid-19 seperti saat ini, tentu perayaan hari anak tak bisa diselenggarakan seperti tahun-tahun sebelumnya. Melalui Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), tema HAN 2020 “Anak Terlindungi, Indonesia Maju”, pun hanya bisa digemakan melalui tagar #AnakIndonesiaGembiradiRumah. Meski begitu, ini harus dijadikan momentum untuk meningkatkan kepedulian semua pilar bangsa Indonesia, baik orangtua, keluarga, masyarakat, dunia usaha, media massa dan pemerintah terhadap pemenuhan hak dan perlindungan khusus anak.

Advertisements

Tidak penting benar bagaimana cara kita merayakan hari anak dalam kondisi-kondisi khusus seperti saat ini. Yang terpenting adalah bagaimana kita, para orangtua, memandang dan memposisikan anak secara benar. Islam, melalui ajaran-ajaran yang difirmankan Allah, memberikan perhatian terhadap anak, salah satunya melalui surat al-Luqman yang memuat beberapa nasihat tentang cara mendidik anak. Dalam beberapa hadits, Nabi Muhammad diketahui tidak hanya memerintahkan, namun juga memberi contoh bagai orangtua harus mencintai dan menyayangi anak.

Misalnya, Rasul SAW bersabda, “Cintailah anak-anak dan berlemah-lembutlah kepada mereka”. Tidak hanya dalam ucapan, Rasul juga memberi contoh melalui perbuatan. Misalnya, suatu ketika saat sedang berkhotbah di mimbar, Rasul melihat cucunya, al-Hasan dan al-Husein, berjalan tertatih. Demi melihat cucunya itu, Rasul SAW langsung turun dari mimbar dan menggendongnya, kemudian mendudukkan keduanya di hadapannya.

Begitu pentingnya posisi anak, al-Quran tidak hanya membahas kewajiban anak kepada orangtua, namun juga kewajiban orangtua kepada anaknya. Dalam perspektif al-Quran, adalah anak adalah amanah bagi orangtuanya; ia sebagai generasi penerus, menjadi tabungan amal di akhirat, dan penghibur serta perhiasan dunia bagi orangtuanya.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan