Al-Quran sebagai Lentera bagi Mualaf

Al-Quran merupakan dustur lil ummat (undang-undang bagi umat), petunjuk bagi makhluk, dan sebagai bukti nyata atas kenabian dan risalah Muhammad. (Ali Al-Shabuni, Al-Tibyan Fi Ulum al-Quran, hal: 8).

Selain itu, Al-Quran sebagai obat, bahkan menjadi sumber penelitian ilmu pengetahuan, baik  di kalangan Timur maupun Barat. Sehingga sampai saat ini, berjuta-juta umat seantero dunia menjadikan Al-Quran sebagai objek bacaan serta penelitan bagi muslim maupun orientalis.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Al-Quran tidak hanya menjadi hiasan dalam rak-rak lemari buku, namun ia menjadi lentera bagi kehidupan nonmuslim dalam mengarungi kehidupan yang lebih layak, yakni dinul islam. Bahkan, dalam dekade ini, perhatian para mualaf terhadap Al-Quran begitu intens, seperti yang terjadi Jefri Lang, professor matematika asal Amerika yang masuk Islam gara-gara belajar Al-Quran (Mashudi, Cerahkan Hidup dengan Belajar al-Quran: Hal: 409).

Baca Juga:   Tetap Jernih di Tengah Keruhnya Media Sosial

Menurut catatan Masri Muadz, bahwa jumlah mualaf terus meningkat setiap tahunnya. Misalnya, setelah melakukan penelitian terhadap 39 negara pada 2011-2012, diketahui bahwa 8 persen dari penduduk Rusia mengedentifikasi diri masuk Islam atau menjadi muslim. Bahkan, menurut penelitian Graeme Smith, di Provensi Ulyanivsk Oblast terdapat kecenderungan penurunan jumlah penduduk secara keseluruhan. Namun, jumlah penduduk muslim khususnya yang berasal dari Tatar mengalami lonjakan hingga mencapai 12 persen.

Setelah ditelusuri dari berbagai bacaan maupun media online, bisa ditarik konklusi bahwa perpindahan mereka dari agama sebelumnya kepada Islam dikarenakan pembelajaran yang intens atas kandungan isi Al-Quran. Sehingga, dengannya, memberikan warna baru dalam kehidupan mereka. Maka benar, apa yang dikatakan Ali Al-Shobuni benar adanya, bahwa, “Ketika seseorang menyelami makna Al-Quran, maka ia akan mendapatkan mutiara yang sangat mahal harganya, yakni dinul islam.

Baca Juga:   Ngopi dan Tradisi Para Sufi

Dua Tokoh Mualaf

Kita bisa mengambil dua tokoh yang menjadi mualaf setelah mendalami kandungan Al-Quran secara intens. Mereka adalah Jefri Lang, seorang profesor matematika dan Yusuf Estes, seorang pendeta.

Jefri Lang adalah seorang Amerika asal Jerman. Ia adalah profesor matematika pada Departemen Matematika Universitas Kansas, Amerika Serikat (1995). Ia dilahirkan dan tumbuh remaja di keluarga dan lingkungan agama Katholik. Ia sudah dibaptis dan disekolahkan di sekolah Katholik. Sejak sekolah menengah atas ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan keberadaan Tuhan. Ia belum mendapatkan jawaban yang memuaskan logikanya terhadap pertanyaan-pertanyaan dirinya tentang Tuhan.

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan