Aku dan Pesantrenku (1): Mimpi Jadi Kenyataan

Masih sangat teringat dalam benak saya, saat pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini. Ya, Pondok Annuqayah adalah pesantren yang saya impikan. Sejak masih sangat kecil, saya sudah pamer ke teman-teman kalau saya mau mondok ke Annuqayah. Di desa tempat saya numpang hidup, Annuqayah terkenal dengan nama Pondok Guluk-Guluk (Ponduk Luk-Guluk). “Setelah tamat Sekolah Dasar aku akan mondok ke Annuqayah,” demikian saya selalu pamer kepada teman-teman di sekolahku.

Dan momen itu menjadi kenyataan. Hari Rabu, entah tanggal berapa saya pertama kali menginjakkan kaki di pesantren ini. Ada rasa bangga yang bukan alang kepalang. Saya mencapai apa yang aku impikan: mondok di Pesantren Annuqayah yang berada di Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Jawa Timur. “Mimpi itu menjadi kenyataan, the dream comes true,” demikian saya berpikir saat itu.

Advertisements
Semarak Literasi duniasantri

Setelah prosesi penyerahan santri kepada kiai, pada saat itu Kiai A Warits Ilyas (alm), saya pun resmi menjadi santri di pesantren ini. Teman-teman yang sudah lebih dahulu menjadi santri di pondok ini menyambut dan membimbing saya dalam hal kebaruan di pesantren. Di mana tempat mandi, bagaimana cara menanak nasi (saat saya mondok hampir dipastikan semua santri memasak sendiri), kapan harus salat berjamaah, di mana tempat mandi dan mencuci pakaian, bilamana saya harus belajar, dan kebaruan-kebaruan lainnya. Lambat laun pun saya dapat beradaptasi dengan suasana pondok serta keharusan yang harus saya kerjakan.

Baca Juga:   Menggagas Paradigma Baru Ilmu Islam

Satu hal yang selalu terngiang dalam ingatan adalah awal-awal kali saya memasuki masjid untuk salat berjamaah. Utamanya pada salat jamaah magrib, waktu sebelum dikumandangkan azan, saat itulah zikir dan bacaan ayat Al-Quran bergema. Hingga kemudian pengalaman itu menggetarkan hati seakan ada ribuan malaikat yang sedang menggaungkan asma Tuhan. Tiba-tiba saya menitikkan air mata, haru dan pengakuan dosa berkecamuk dalam pikiran saya saat itu. Entahlah, yang sedemikian itu berjalan hingga beberapa bulan ke depan. Meskipun pada akhirnya, di kemudian hari hal itu sudah menjadi biasa dan tidak lagi menjadi sesuatu yang luar biasa.

Baca Juga:   Islam Timur Tengah dan Islam Indonesia

Halaman: First 1 2 3 Next → Last Show All

Tinggalkan Balasan